"Habis duitnya, sebenarnya kepingin sekali umroh tapi Allah belum memberkahi," kata sang nenek, mencoba mengikhlaskan apa yang telah hilang.
Kehilangan rumah mungkin menyedihkan, namun bagi nenek ini, kehilangan harapan untuk beribadah di masa senjanya adalah beban yang jauh lebih menyesakkan dada.
Kalimat terakhirnya menggambarkan betapa dalam luka yang ia rasakan akibat bencana ini.
"Berat kali rasanya," pungkasnya singkat, namun sanggup menggambarkan kepedihan yang luar biasa.
Kisah nenek di Aceh Tamiang ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa banjir bukan hanya menghanyutkan harta benda, tetapi juga impian dan harapan manusia yang telah dibangun selama bertahun-tahun.***