"Habis duitnya, sebenarnya kepingin sekali umroh tapi Allah belum memberkahi," kata sang nenek, mencoba mengikhlaskan apa yang telah hilang.
Kehilangan rumah mungkin menyedihkan, namun bagi nenek ini, kehilangan harapan untuk beribadah di masa senjanya adalah beban yang jauh lebih menyesakkan dada.
Kalimat terakhirnya menggambarkan betapa dalam luka yang ia rasakan akibat bencana ini.
"Berat kali rasanya," pungkasnya singkat, namun sanggup menggambarkan kepedihan yang luar biasa.
Kisah nenek di Aceh Tamiang ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa banjir bukan hanya menghanyutkan harta benda, tetapi juga impian dan harapan manusia yang telah dibangun selama bertahun-tahun.***
Artikel Terkait
Akses Putus Sejak Banjir Bandang, Momen Truk Pertama Mengangkut Bantuan Logistik Melintasi Tenge Besi Menuju Takengon
Tolak Terisolasi, Warga Rusip Antara Gotong Royong Bangun Jembatan Darurat dari Kayu Tanpa Alat Berat
Momen Haru Penyintas di Aceh Tamiang Menolak Mengambil Banyak Bantuan Logistik: Korban Banjir Bukan Kami Sendiri