Di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian, ingatan mereka masih tertuju pada rumah yang hilang, meninggalkan tanda tanya besar tentang di mana mereka akan bernaung setelah masa tanggap darurat berakhir.
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling rentan kehilangan rasa aman saat bencana melanda, kehilangan dunianya yang selama ini mereka kenal sebagai rumah.*