YUSUF BLEGUR : Rakyat Disikat Hutan Dilumat, Sungguh Rezim Laknat

Photo Author
Agus.R, Jurnalis Network
- Kamis, 11 Desember 2025 | 19:32 WIB
Yusuf Blegur, Aktifis '88
Yusuf Blegur, Aktifis '88

Tak cukup memeras dan merampok uang rakyat, kelakuan pemerintah kini telah melampaui batas. Demi menumpuk pundi-pundi kekayaan dan selanjutnya melanggengkan kekuasaan. Pemerintah justru telah mengusik lingkungan. Bagian dari alam yang agung telah dilukai, bukan lagi pencemaran dan kerusakan lebih dari itu telah terjadi pembangkangan terhadap
keberadaan Tuhan yang representasinya ada pada semesta.

Hutan yang menjadi jantung dari peradaban manusia dan alam juga menjadi korban dari keserakahan segelintir orang. Kejahatan lingkungan yang terus difasilitasi pejabat negara, harus dibayar mahal. Alam bergejolak bukan karena amarah, namun karena ulah manusia yang tak ramah lingkungan, juga dzolim.

Deforestasi telah menegaskan dan menguatkan pada apa yang terjadi yang disebut dengan "state organized crime". Ramai-ramai dan berjamaah, birokrasi dan korporasi menjarah hutan demi syahwat materi dan kepuasan dunia yang ikut berkontribusi menghancurkan ekosistem dan habitat makhluk hidup.

Baca Juga: Menyoal Penanganan Korban Bencana, DPR Dorong Perubahan Pola Penanganan Musibah

Setelah rakyat yang terus-menerus menerima musibah dan bencana akibat ulah segelintir birokrasi dan korporasi hipokrit, tak ada satupun yang menyatakan bertanggungjawab. Alih-alih mengakui perbuatan dan kesalahan, mereka justru sibuk memainkan orkestrasi buang badan dan pembenaran. Dari buzzer hingga presiden, semua pemangku kepentingan publik terkait seperti buta tuli nurani, bahkan tak ubahnya lebih buruk dari hewan ternak.

Hati mereka busuk, pikiran mereka licik, mulut mereka beracun. Itulah gambaran pemerintahan yang tak tahu berterimakasih dan membalas hutang budi pada rakyat. Rakyat yang memberi mereka mandat dari secarik kertas legalitas dan legitimasi kewenangan, diselewengkan dengan menumpuk kekayaan dan tindakan penindasan.
Alam semesta yang ikut menjaga kehidupan mereka juga ikut menjadi korban.

Apa yang terjadi pada kemudian hari, tiada yang tahu. Akankah musibah dan bencana itu akan terus datang?. Haruskah rakyat dan semesta alam yang menanggung dosa segelintir orang?. Jangan bertanya pada rumput yang bergoyang, mungkin sebaiknya minta penjelasan pada diri sendiri masing-masing. Apakah kita semua masih menjadi manusia dan berlaku adil pada semesta alam?.

Rakyat seperti penonton yang harus membayar mahal demi menyaksikan sirkus pejabat penuh akrobatik. Tentunya sambil merasakan kehebatan pemerintahan yang penuh tipu daya terhadap rakyat dan makar pada semesta.
Ya itulah bencana terbesar dan nyata, ketika rakyat disikat dan hutan dilumat, sungguh rezim laknat adanya.


Bekasi Kota Patriot.
20 Jumadil Akhir 1447 H/11 Desember 2025.***

Halaman:

Editor: Agus.R

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

BAHAYANYA MAKELAR KASUS ( MARKUS )

Minggu, 24 Mei 2026 | 19:12 WIB

Suasana Perayaan Hari Raya Nyepi Di Tegal Kondusif

Jumat, 20 Maret 2026 | 15:24 WIB
X