YUSUF BLEGUR : Rakyat Disikat Hutan Dilumat, Sungguh Rezim Laknat

Photo Author
Agus.R, Jurnalis Network
- Kamis, 11 Desember 2025 | 19:32 WIB
Yusuf Blegur, Aktifis '88
Yusuf Blegur, Aktifis '88

 

Disampaikan Oleh Yusuf Blegur


Dibalik kesengsaraan dan penderitaan kehidupan rakyat serta kerusakan alam, ada kesenangan dan pesta-pora para penguasa


Watak kolonialisme dan imperialisme itu memang nyata. Mereka tidak datang datang dari yang hidup di masa lampau yang berbuat kerusakan. Mereka juga tidak datang atas nama sekumpulan orang-orang berseragam militer yang fasis, yang mengobarkan perang dan kehancuran dunia.

Mereka adalah segelintir manusia-manusia yang ada dan berkembang dalam kemajuan zaman. Memiliki status sosial dan jabatan mentereng, berdasi dan dihormati. Dengan gaji besar dan fasilitas fantastis, mereka menjalankan gaya hidup mewah dan penuh "previllage" yang dibiayai dari uang rakyat, dari keringat dan kesulitan rakyat.

Baca Juga: Korban Banjir di Aceh Utara Tempuh Jalur Ekstrem demi Dapat Bansos, Rela Berjalan Kaki Puluhan Kilometer

Ini tentang sedikit orang-orang yang hidup di alam kemerdekaan yang memperlakukan rakyat sebagai orang jajahan. Bertindak bagai raja dan memperlakukan rakyat seperti budak. Pajak pengganti upeti, hukum yang membela penguasa apapun salahnya serta pelbagai perampasan aset rakyat dengan beragam dalih dan pembenaran.

Tak sekedar berlimpah kekayaan dan kewenangan luas, mereka juga menghiasi kekuasaannya dengan perangai anti kritik, arogan dan represif. Memunculkan sifat dan gaya kepemimpinan yang rakus pada harta sekaligus keji dan haus darah.

Mereka semua mewujud pejabat hipokrit yang ada di lingkungan partai politik, DPR/MPR, TN-Polri, kementerian, Kejaksaan dan Kehakiman, MA, KPK, KPU, MK dan semua pemangku kepentingan publik. Sebagian besar dari mereka merupakan sejatinya para pelacur dan penjahat.

Mereka telah membuat catatan kelam yang tragis dalam kehidupan bernegara, cukup hanya dengan satu dekade. Kerusakan dan kehancurannya melebihi dari akibat penjajahan ratusan tahun yang dialami bangsa ini dari kolonialisme dan imperialisme lama. Mereka itulah yang sekarang menjelma menjadi pemerintah atau penguasa kalau tidak mau disebut reinkarnasi dari nekolim.

Baca Juga: Pria Korban Bencana di Sumatera Curhat Kekurangan Baju Laki-laki

Berderet tragedi KM 50 dan Kanjuruhan, kasus Rempang dan Wadas, sindikat Satgas Merah Putih dan skandal Sambo serta tak terhitung lagi kejahatan kekerasan fisik dan pembunuhan yang dilakukan secara terang-terangan dan tersembunyi di hadapan publik. Sementara, seiring itu korupsi merajalela dan pelakunya bebas berkeliaran serta masih bisa mendapat posisi mulia dan terhormat dalam pemerintahan.

Mereka punya segalanya, mengatur konstitusi dan mengelola demokrasi sesuai selera dan kepentingan mereka. Sistem nilai yang tetap saja berwatak kapitalistik, sebuah metode pemerintah yang sarat eksploitatif, manipulatif dan koruptif. Begitupun dengan semua institusi negara dan aparatnya, mudah dibeli dan diperintah sesukanya dengan uang dan jabatan.

Baca Juga: Penyidik Bareskrim Telusuri Jejak Kayu Garoga: 27 Sampel Diambil, Dua Jembatan Diperiksa

Dari Dehumanisasi ke Deforestasi

Halaman:

Editor: Agus.R

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

BAHAYANYA MAKELAR KASUS ( MARKUS )

Minggu, 24 Mei 2026 | 19:12 WIB

Suasana Perayaan Hari Raya Nyepi Di Tegal Kondusif

Jumat, 20 Maret 2026 | 15:24 WIB
X