Disampaikan Oleh Yusuf Blegur
Dibalik kesengsaraan dan penderitaan kehidupan rakyat serta kerusakan alam, ada kesenangan dan pesta-pora para penguasa
Watak kolonialisme dan imperialisme itu memang nyata. Mereka tidak datang datang dari yang hidup di masa lampau yang berbuat kerusakan. Mereka juga tidak datang atas nama sekumpulan orang-orang berseragam militer yang fasis, yang mengobarkan perang dan kehancuran dunia.
Mereka adalah segelintir manusia-manusia yang ada dan berkembang dalam kemajuan zaman. Memiliki status sosial dan jabatan mentereng, berdasi dan dihormati. Dengan gaji besar dan fasilitas fantastis, mereka menjalankan gaya hidup mewah dan penuh "previllage" yang dibiayai dari uang rakyat, dari keringat dan kesulitan rakyat.
Ini tentang sedikit orang-orang yang hidup di alam kemerdekaan yang memperlakukan rakyat sebagai orang jajahan. Bertindak bagai raja dan memperlakukan rakyat seperti budak. Pajak pengganti upeti, hukum yang membela penguasa apapun salahnya serta pelbagai perampasan aset rakyat dengan beragam dalih dan pembenaran.
Tak sekedar berlimpah kekayaan dan kewenangan luas, mereka juga menghiasi kekuasaannya dengan perangai anti kritik, arogan dan represif. Memunculkan sifat dan gaya kepemimpinan yang rakus pada harta sekaligus keji dan haus darah.
Mereka semua mewujud pejabat hipokrit yang ada di lingkungan partai politik, DPR/MPR, TN-Polri, kementerian, Kejaksaan dan Kehakiman, MA, KPK, KPU, MK dan semua pemangku kepentingan publik. Sebagian besar dari mereka merupakan sejatinya para pelacur dan penjahat.
Mereka telah membuat catatan kelam yang tragis dalam kehidupan bernegara, cukup hanya dengan satu dekade. Kerusakan dan kehancurannya melebihi dari akibat penjajahan ratusan tahun yang dialami bangsa ini dari kolonialisme dan imperialisme lama. Mereka itulah yang sekarang menjelma menjadi pemerintah atau penguasa kalau tidak mau disebut reinkarnasi dari nekolim.
Baca Juga: Pria Korban Bencana di Sumatera Curhat Kekurangan Baju Laki-laki
Berderet tragedi KM 50 dan Kanjuruhan, kasus Rempang dan Wadas, sindikat Satgas Merah Putih dan skandal Sambo serta tak terhitung lagi kejahatan kekerasan fisik dan pembunuhan yang dilakukan secara terang-terangan dan tersembunyi di hadapan publik. Sementara, seiring itu korupsi merajalela dan pelakunya bebas berkeliaran serta masih bisa mendapat posisi mulia dan terhormat dalam pemerintahan.
Mereka punya segalanya, mengatur konstitusi dan mengelola demokrasi sesuai selera dan kepentingan mereka. Sistem nilai yang tetap saja berwatak kapitalistik, sebuah metode pemerintah yang sarat eksploitatif, manipulatif dan koruptif. Begitupun dengan semua institusi negara dan aparatnya, mudah dibeli dan diperintah sesukanya dengan uang dan jabatan.
Baca Juga: Penyidik Bareskrim Telusuri Jejak Kayu Garoga: 27 Sampel Diambil, Dua Jembatan Diperiksa
Dari Dehumanisasi ke Deforestasi
Artikel Terkait
Ribuan Orang Doa Bersama Untuk Korban Bencana
Raja Juli DIsemprot Titiek Soeharto usai Tayangan Truk Pengangkut Kayu Besar Pascabencana
846 Pengungsi Bencana Banjir Longsor Masih Perlu Penanganan
WALHI : Pemerintah Harus Tagih Reklamasi Pascatambang hingga Tempuh Jalur Hukum.
Viral di Medsos Kondisi Penambangan di Kawasan Gunung Slamet, Gubernur Ahmad Lutfi Tegaskan Tidak Boleh Ada Penambangan