JurnalisNetwork-TEGAL-Di Kampung Panggung Tepatnya di Jalan KH Mukhlas Rt 04/03, Kota Tegal, nama Hamzah pernah menjadi kebanggaan warga sekitarnya. Kejayaan hiudpnya sebagai pelaut kapal luar negeri menjadi "icon"keberhasilan hidup di kampungnya.Setiap kali kapalnya pulang dari pelayaran luar negeri, anak-anak berlarian ke rumah tempat tinggalnya untuk melihatnya. Para tetangga menyambut dengan senyum, sementara keluarga dan kerabat berkumpul di rumahnya yang besar dan megah.
"Setiap kali kepulangannya dari kapal luar negeri, rumahnya selalau ramai di kunjungi tetangga, sanak dan keluarganya , bahkan hampir nonstop selama 24 jam penuh rumahnya ramai di datangi warga,"ucap Edi,(47) salah satu tetangganya yang juga berprodfesi sebagai pelaut lokal.
Hamzah adalah seorang pelaut kapal luar negeri yang telah menghabiskan waktu beberapa tahun mengarungi samudra. Ia bekerja keras di kapal-kapal penangkap ikan internasional, berlayar dari Asia , Negara Afrika. Penghasilannya jauh di atas rata-rata warga kampungnya. Dari hasil jerih payah itu, membelib eberapa rumah, beberapa rumah , dan membantu banyak orang.
Tak sedikit warga yang pernah menikmati bantuannya bahkan meminjam uang kepadanya. Ada yang membutuhkan biaya sekolah, modal usaha, bahkan biaya berobat. Hamzah hampir tidak pernah menolak. Baginya, rezeki yang ia peroleh dari laut harus membawa manfaat bagi sesama.
Karena kedermawanannya, ia dikenal dan dihormati. Saat acara kampung berlangsung, namanya selalu disebut. Ketika ada musyawarah warga, pendapatnya didengar. Banyak orang berkata, "Kalau ingin sukses, jadilah seperti Pak Hamzah."
Baca Juga: Rupiah Murah, Rasuah Meriah / Oleh Yusuf Blegur /Atifis 98
Namun roda kehidupan terus berputar.
Memasuki usia senja, Hamzah memutuskan pensiun. Ia merasa cukup menghabiskan hidup di tengah ombak dan badai. Ia ingin menikmati hari-harinya bersama keluarga di kampung halaman.
Awalnya semua berjalan baik. Tetapi beberapa investasi yang ia percayakan kepada kenalannya ternyata gagal. Sebagian uang tabungannya habis untuk menutup kerugian. Belum lagi biaya hidup yang terus meningkat dan kesehatan yang mulai menurun.
Satu demi satu aset yang dimilikinya terjual. Rumah yang dulu menjadi kebanggaan kampung berpindah tangan. Rumah besar yang pernah ramai tamu mulai sepi. Anak-anak yang dulu sering datang meminta bantuan kini jarang terlihat.Hingga akhirya dirinya hijrah dan hanya mamapu membeli rumah petak sederhana di sebuah kampung padat dan kumuh di kampung lain dalam satu kota.
Ketika kondisi ekonominya semakin sulit, Hamzah mulai merasakan perubahan sikap orang-orang di sekitarnya. Orang orang dan sanak keluarga yang dahulu sering datang dan mengajaknya mengobrol, kini hampir sudah tak pernah lagi. Undangan acara semakin jarang datang. Bahkan beberapa orang yang pernah ia bantu berpura-pura tidak melihatnya saat berpapasan di jalan.Dan yang lebih tragis lagi sudah tidak ada lagi sanak saudara yang datang untuk sekedar menegoknya.
Baca Juga: BAHAYANYA MAKELAR KASUS ( MARKUS )
Hari-harinya menjadi sunyi.
Suatu sore, Hamzah duduk di bangku tua dekat pelabuhan Tegal. Ia memandangi kapal-kapal yang berangkat menuju lautan luas. Angin laut berembus pelan membawa aroma asin yang mengingatkannya pada masa kejayaan.
Artikel Terkait
FASTABIQUL KHOIROT Dalam Kehidupan Bermasyarakat //Oleh : Rudi Hartono (Tokoh Masyarakat Kab.Pemalang)
Makna Menodai Agama Menurut Undang Undang
BENCANA ALAM VS BENCANA KEBIJAKAN :Oleh Rudi Hartono (RHsp)//Penulis/Tokmas Pemalang
Habis Omong Terbitlah Bohong ../Oleh YUSUF BLEGUR / Aktifis 88
KEADILAN ALLAH TIDAK HARUS TERLIHAT DI DUNIA, TAPI PASTI AKAN ADIL DI AKHIRAT