Di hadapannya berlalu para pemuda dan warga kampung. Tidak ada yang menyapa. Tidak ada yang mengenali bahwa lelaki tua dengan pakaian sederhana itu pernah menjadi pelaut sukses yang mengangkat nama Kampung Panggung.
"Siapa bapak itu?" tanya Adit, seorang anak kecil kepada temannya.
Temannya menggeleng.
Hamzah hanya tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa ketenaran, kekayaan, dan penghormatan ternyata tidak selalu bertahan selamanya.
Malam itu ia pulang dengan langkah perlahan. Rumah kecil yang kini ia tempati terasa begitu sunyi. Namun di tengah kesendirian, ia menemukan pelajaran yang tidak pernah ia dapatkan selama berlayar mengelilingi dunia.
Ia sadar bahwa manusia sering mengenal seseorang karena apa yang dimilikinya, bukan karena siapa dirinya. Ketika harta menghilang, banyak hubungan ikut menghilang bersamanya.
Meski demikian, Hamzah tidak menyimpan dendam. Ia tetap menjalani hidup dengan sederhana. Sesekali ia membantu nelayan muda memperbaiki jaring atau bercerita tentang pengalaman berlayar melintasi samudra.
Tahun-tahun berlalu. Nama Hamzah semakin tenggelam dari ingatan kampungnya. Tidak ada lagi yang mengenangnya sebagai pelaut sukses. Namun bagi dirinya sendiri, ia tidak merasa kalah.
Baca Juga: Si Cungkring dan Si Gemoy, Pasangan Tak Berkesudahan Oleh Yusuf Blegur (Aktifis 88)
Ia pernah menaklukkan badai di tengah lautan, dan kini ia sedang menaklukkan badai yang lebih besar: kesepian dan kenyataan hidup.
Dari beranda rumahnya yang sederhana, Hamzah sering memandang langit senja. Ia tersenyum setiap kali melihat burung-burung kembali ke sarangnya.
Karena akhirnya ia mengerti, bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang mengenalnya, melainkan oleh seberapa tulus ia menjalani hidupnya.
Dan di Kampung sebelah yang terus berubah, Hamzah menjalani hari-hari terakhirnya sebagai seorang pelaut tua yang nyaris terlupakan, tetapi tetap tegar seperti lautan yang pernah menjadi rumahnya.
Tak sadar Hamzah mengamini pendapat para ulama dan tokoh agama yang kerap menyatakan bahwa "Hidup itu cuma mencatat sejarah lalau mati" sehingga hidup hanyalah sebuah cerita. Yang terpenting adalah Bagaimana menjalani hidup dengan tingkat Kesadaran bahwa manusia hanya dihidupkan untuk menjalani proses hidup. (Ditulis oleh Gus Riyadin berdasarkan kisah asli)****
Artikel Terkait
FASTABIQUL KHOIROT Dalam Kehidupan Bermasyarakat //Oleh : Rudi Hartono (Tokoh Masyarakat Kab.Pemalang)
Makna Menodai Agama Menurut Undang Undang
BENCANA ALAM VS BENCANA KEBIJAKAN :Oleh Rudi Hartono (RHsp)//Penulis/Tokmas Pemalang
Habis Omong Terbitlah Bohong ../Oleh YUSUF BLEGUR / Aktifis 88
KEADILAN ALLAH TIDAK HARUS TERLIHAT DI DUNIA, TAPI PASTI AKAN ADIL DI AKHIRAT