JurnalisNetwork-PEMALANG — Aktivitas vulkanik Gunung Slamet di Jawa Tengah menunjukkan peningkatan signifikan. Data terbaru mencatat suhu maksimum kawah melonjak tajam dari 247,4 derajat Celsius pada September 2024 menjadi 411,2 derajat Celsius.
Cuaca cerah dan berawan. Angin bertiup lemah, sedang, hingga kencang ke arah barat. Suhu udara 20.7-26.1 °C dan kelembaban udara 72-93 %.
Data terakhir yang peroleh JurnalisNetwork, pada Minggu (5/4/2026) siang di Pusat Penagamatan Gunung Slamet ,Desa Gambuhan , Pulosari Pemalang mencatat visual Gunung Slamet jelas hingga kabut 0-I. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 100-300 m di atas puncak kawah.
Sementara Jumlah : 2, Amplitudo : 3-6 mm, dengan durasi Durasi : 8-23 detik). Meskidemikian Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 0.5 mm (dominan 0.5 mm)
Dengan adanya peingkatan tersebut status gunung Slamet dinyatakan Level II (Waspada)
Baca Juga: Polda Jateng Tangkap Pengoplos Gas Subsidi di Karanganyar
Atas adanya kenaikkan vulkanik tersebut masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak diperkenanakan berada/beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah puncak G. Slamet.
Peningkatan suhu juga menjadi salah satu indikator utama adanya perubahan aktivitas di gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa tersebut. Petugas pemantauan gunung api menyebutkan, lonjakan suhu kawah biasanya berkaitan dengan meningkatnya suplai panas dari dalam perut bumi yang dapat memicu aktivitas erupsi.
“Terjadi kenaikan suhu maksimum yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Ini menunjukkan adanya dinamika baru di dalam sistem magma Gunung Slamet,” ujar salah satu petugas pos pengamatan.
Selain kenaikan suhu, aktivitas lain seperti hembusan gas dan intensitas kegempaan juga dilaporkan mengalami peningkatan, meskipun masih dalam kategori terkendali. Asap kawah terpantau keluar dengan tekanan lemah hingga sedang, berwarna putih hingga kelabu, dengan ketinggian bervariasi.
Baca Juga: DemakKembali DIterjang Banjir
Meski demikian, status Gunung Slamet hingga saat ini masih berada pada level waspada. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius aman yang telah ditentukan oleh pihak berwenang, khususnya di sekitar kawah aktif.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus melakukan koordinasi dan pemantauan intensif guna mengantisipasi potensi peningkatan aktivitas yang lebih tinggi.
Warga yang tinggal di lereng gunung diminta tetap tenang namun waspada serta selalu mengikuti informasi resmi dari instansi terkait. Selain itu, jalur pendakian menuju puncak Gunung Slamet untuk sementara waktu ditutup demi keselamatan.