JurnalisNetwork-TEGAL-
Pena dan Buku
Oleh Lutfi A.N
(Wartawan Senior/Seniman/Budayawan)
/////
Anak kelas 4 SD NTT bunuhdiri karena kemiskinan ibunya tak bisa membelikan pena dan buku sekolah. Untungnya bukan terjadi di desa, kota dan provinsi kami. Tetapi hati kami terpukul karena terjadi di negara kami. Sejak kapan bocah sekecil itu sedemikian mudah mengakhiri hidup dengan cara ekstrem di luar nalar?
Baca Juga: Kebakaran Bus di Tol Pejagan Pemalang, 32 Penumpang Selamat
Sinyalemen Menkes RI Budi Gunawan Sadikin menunjukkan 10 prosen lebih warganegara terjangkit stres bukan isapan jempol. KPA/ Komisi Perlindungan Anak selama 2025 mencatat 7,66℅ kasus bunuhdiri melibatkan anak dibawah umur.
Per November 2025 Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia mencapai 4.149.742 anak, dengan rincian 25,57% di antaranya adalah dropout. Sebagian besar karena situasi orangtua kesulitan ekonomi. Kemiskinan salah satu faktor penting bagi masa depan anak menunaikan cita-cita sehingga kefustrasian memicu keinginan anak mengakhiri hidup.
Baca Juga: BSI Gandeng Pemkot Tegal Beri Bantuan Kemiskinan
Ekosistem sosial mengalami perubahan sejak hilangnya rasa kebersamaan, empati dan kemanusiaan tercerabut dari hidup yang serba kapital, individual dan hedon. Lalu tatanan agama atawa keyakinan kemana musti berharap ketika semua pemeluknya kehilangan cinta hingga kita menyaksikan anak kelas 4 SD gantung diri karena gagal mendapatkan pena dan buku dari orangtua yang miskin?***(sourche : FB @Lutfi AN)