JurnalisNetwork_TEGAL-Kehidupan yang bahagia adalah dambaan semua orang. Tidak ada satu pun manusia yang ingin hidup susah, gelisah, dan tidak merasakan ketentraman. Namun demikian, prinsip dan cara pandang orang berbeda-beda dalam mengukur kebahagiaan. Bagi seorang mukmin, kebahagiaan tidak hanya kebahagiaan dunia berupa kemewahan dan keberlimpahan materi, tapi juga harus meraih kebhagiaan akhirat. Pun kita tidak boleh selalu mengejar akhirat, tetapi melupakan kebutuhan kebahagiaan diri dan keluarga yang sedang dihadapi. Rasulullah mengajarkan ummatnya untuk meraih kebahagiaan akhirat dengan tidak melupakan kebahagiaan dunia.
Allah swt berfirman dalam surat Al Qashash ; 77)
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (Surah al-Qashash:77)
Kebahagiaan yang kita dambakan adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebagaimana doa yang disyari’atkan di dalam Al-Qur’an, dan senantiasa dibaca di segala kondisi.
Baca Juga: Kebiasaan Menunda-nunda Pekerjaan atau Tugas, Ini Cara Efektif untuk Mengatasinya
Sebagai seorang Muslim, kebahagiaan haruslah diraih dengan cara yang baik dan diridhai Allah taala. Dengan begitu, kita tidak hanya akan mendapatkan kebahagiaan di dunia, tapi juga di akhirat. Lalu bagaimana bentuk kebahagiaan dunia akhirat menurut Rasulullah?. Bagi orang yang beriman kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan akhirat berupa selamat dari api neraka dan masuk ke surga Allah.
Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad, “Sungguh orang yang diselamatkan oleh Allah dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, itulah kabahagiaan yang hakiki.”
Adapun kebahagiaan secara duniawi Rasulullah menggambarkan 4 indikator kebahagiaan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Addailami;
أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ اْلمَرْءِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا وَخُلَطَائُهُ صًالِحِيْنَ وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِى بَلَدِهِ
''Empat macam dari kebahagiaan manusia, yaitu istri yang salehah, anak yang berbakti, teman-temannya adalah orang-orang yang baik, dan mata pencahariannya berada dalam negaranya sendiri.'' (HR Dailami)
1.ISTRI SHALEHAH
Istri salehah bukan sekadar penyejuk hati bagi suaminya tapi juga menjadi instrumen untuk mencetak generasi saleh karena seorang ibu adalah madrasah awal bagi anak-anaknya. Indikator istri salehah menurut Rasulullah adalah “Jika dipandang (suami) ia menyenangkan, jika diperintah ia taat, dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara-perkara yang dibencinya, baik dalam diri maupun harta.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّذِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ