JurnalisNetwork-BEKASI
Disampaikan Oleh *Yusuf Blegur*
Perbedaan paling hakiki antara kekuasaan dan kepemimpinan itu terletak pada standar moralnya. Penguasa mengambil dan menerima sedangkan pemimpin memberi dan mengorbankan dirinya
Kekuasaan kerap seiring sejalan dengan jabatan, kekayaan dan kemasyhuran. Terkadang saling menyalip, berhadap-hadapan dan menunjukan mana yang paling kuat dan memengaruhi satu sama lainnya.
Baca Juga: Gelar Operasi Keselamatan Candi 2026, Polres Pemalang Kedepankan Pendekatan Edukatif dan Humanis
Begitupun dalam wilayah konseptual dan praksis, kekuasaan dan irisan di dalamnya terkadang menemukan sinergi dan kolaborasi di satu sisi, terkadang harus menghadapi kontradiksi dan konflik di sisi lainnya.
Dalam praktik bernegara, kekuasaan yang harusnya menjadi alat untuk mengelola idealisme, justru tergusur oleh tujuan pragmatis. Kekuasaan lebih sering mendahulukan kemapanan hidup yang individualistik ketimbang mewujudkan nilai-nilai kolektif kebangsaan.
Baca Juga: Polres Tegal Kota Mulai Gelar Operasi Keselamatan Candi 2026
Kemudian pola pendekatan yang membentuk kultur kekuasaan yang hedon dan selfish itu, hanya mendatangkan kemunduran kualitas manusia dan lingkungannya. Negara tidak lebih menjadi mesin pabrik yang menghasilkan produk kemiskinan dan kebodohan rakyatnya. Atau setidaknya seperti institusi pendidikan yang sekedar menghasilkan orang-orang terpelajar tapi bukan sebagai manusia yang manusiawi.
Dalam persfektif ideologi apapun negara yang menjalankan sistem ketatanegaraan yang hanya berbasis kekuasaan. Maka yang terjadi tidak lebih dari sekedar pemerintahan yang korup, manipulatif dan represif. Para pemangku kepentingan publik dengan kewenangan dan otoritas penuh, cenderung menanggalkan etika,moral dan hukum dalam fungsi pelayanan dan pengabdian.
Kekuasaan yang dominan diwarnai oleh hawa nafsu yang mengalahkan akal sehat dan nurani. Hanya akan melahirkan realitas betapa berjaraknya nilai-nilai dan tindakan. Terkesan santun dalam ucapan namun gemar membuat laku kebiadaban. Beragama tapi tak bertuhan. Bertuhan tapi seiring itu intens mengingkarinya. Apalagi yang terang-terangan tak beragama dan tak bertuhan, kekuasaan menjadikan dan memperlakukan dirinya laksana Tuhan yang sebenarnya.
Baca Juga: Terjunkan Dokter Speling di Wilayah Bencana
Distorsi kekuasaan membuat siapapun yang menggenggamnya, mereduksi kemanusiaannya sendiri. Bahkan tak luput mengabaikan kesadaran transendental dalam hidupnya. Pemegang kekuasaan yang demikian, perlahan tapi pasti telah membunuh potensi kepemimpinan dalam dirinya atau secara komunal yang menopangnya. Tampil tak lebih hanya sebagai penguasa bukan pemimpin.
Peradaban dunia dibelahan manapun lebih banyak mencatat sejarah yang menampilkan hikayat penguasa, bukan pemimpin. Dunia tetap terus berada dalam kegelapan dan kemunduran, meskipun telah lama memasuki zaman pencerahan dan modernitas.
Sedikit celah kelahiran kepemimpinan di tengah dominasi dan hegemoni kekuasaan. Begitu menganga lebar perbedaan karakteristik keduanya dan disparitas tinggi selalu menyelimuti eksistensinya. Kekuasaan konsisten meninggalkan jejak tentang seberapa besar kekuatan dan pengaruhnya pada negara. Sementara kepemimpinan identik pada transformasi nilai dan seberapa luas kesadaran kritis dan makna menjadi pondasi kokoh membangun kehidupan bersama.
Artikel Terkait
YUSUF BLEGUR : Rakyat Disikat Hutan Dilumat, Sungguh Rezim Laknat
Berlanjut Pembusukan Prabowo, Bukti Kekuasaan Genk Solo?. Oleh :YUSUF BLEGUR /AKtifis
Makna Menodai Agama Menurut Undang Undang
Mengenang Teater RSPD *Aku Tak Sendirian :Oleh LUTFI AN. (Wartawan Senior/Seniman dan Budayawan)
Rendahnya Upah Guru Honorer Dinilai Bikin Kinerja Tak Maksimal di Sekolah,