Sesi ini menghadirkan Dino Afriano S, Sutanrai Abdillah, Singgih R. K., dan Diaz R, dengan moderator Okta Rika dan Raffiudin.
Selain itu, pemaparan expertise terkait manajemen tata kelola Living Museum menghadirkan Ida Bagus G., Suroso, dan Singgih R. K., yang membahas model pengelolaan kawasan berbasis komunitas.
Hari kedua dan ketiga difokuskan di Boon Pring melalui program cultural residency yang melibatkan kolaborasi antar institusi kebudayaan. Program ini menghadirkan praktisi seperti Dino Afriano S, Ratna Setyaningsih, dan Pringga Adityawan dalam berbagai kegiatan seperti Jelajah Nusantaraya, Jelajah Rasa, serta Sekolah Bambu.
Direktur Program ICF, Seto Hari Wibowo, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis pengalaman menjadi inti dari festival.
“Peserta tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi terlibat langsung dalam proses, mulai dari eksplorasi hingga produksi pengetahuan,” ujarnya.
Dalam rangkaian lanjutan, sesi terkait activity living museum, stakeholder mapping, dan business matching menghadirkan Seto Hari Wibowo, Muhammad Anwar, Aditya Bayu S, Alan Wahyu H, serta Sutanrai Abdillah, dengan moderator Mary Jona dan Nadira Siti N. Diskusi ini berfokus pada penguatan rantai pasok ekonomi dan peluang pasar bagi produk lokal.
Deputi Ekosistem Kreatif ICCN, Zandri Aldrin, menilai bahwa interaksi langsung menjadi kekuatan utama festival.
“Pendekatan ini membuka ruang dialog antara gagasan dan praktik, sehingga hasilnya lebih kontekstual dan aplikatif,” katanya.
Selain diskusi dan residensi, festival juga menghadirkan Leader’s Talk, pemetaan strategis kawasan, serta forum business matching dan penandatanganan MoU yang bertujuan membangun kolaborasi berkelanjutan.
Deputi Kemitraan Strategis ICCN, Dadik Wahyu Chang, menegaskan pentingnya keberlanjutan program.
“Festival ini dirancang sebagai titik awal kerja sama yang lebih luas, termasuk dengan pemerintah, kampus, komunitas, dan sektor swasta,” ujarnya.
Rangkaian acara juga diperluas ke Kota Malang melalui immersive night berbasis media art serta pertunjukan budaya, yang mempertemukan praktik budaya tradisional dengan pendekatan kreatif kontemporer.
Muhammad Anwar menambahkan bahwa keterhubungan antar program menjadi kunci desain festival.
“Dari diskusi, residensi, hingga aktivasi kawasan, semuanya saling terhubung untuk membangun satu ekosistem yang utuh,” katanya.
Melalui Indonesia Culture & Creative Festival 2026, ICCN dan Yayasan Lintas Batas menargetkan lahirnya jejaring kolaborasi, riset, produk, serta rekomendasi kebijakan yang dapat memperkuat pengembangan kawasan budaya berbasis masyarakat di Indonesia.