Malapetaka MBG
Disampaikan Oleh Yusuf Blegur
Program MBG tidak lebih dari upaya sistematis memelihara kemiskinan dan kebodohan. Saat instrumen pendidikan dan kesehatan serta sektor riil lainnya termarjinalkan. Rezim semata-mata hanya ingin membuat rakyat bermental pengemis, bergantung pada kekuasaan korup dan mudah dimanipulasi secara politis
Di tengah kontroversi bergulirnya program MBG. Pemerintah gagal merasionalisasi janji kampanye makan siang gratis yang kemudian berubah menjadi MBG. Terkesan menjadi proyek mercusuar dan dipaksakan,
sehingga kegiatan super mahal dan boros anggaran itu dinilai publik tak layak untuk diteruskan.
Berikut beberapa analisis yang menempatkan kegagalan program MBG baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Baca Juga: KAI Daop 4 Intensifkan Perawatan Rutin Jalur KA Jelang Angkutan Lebaran 2026
1. Program MBG sangat lemah dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan.
Dengan anggaran fantastis dan keterlibatan resoursis yang luas. Penyelenggaraan MBG terbukti jauh dari kata profesional dan proporsional.
Indikasi itu terdapat pada beberapa masalah yang muncul di lapangan yakni penyajian menu yang jauh dari unsur bergizi, kerap menimbulkan keracunan dan beresiko keselamatan penerima manfaat saat dikonsumsi, belum dapat menjangkau daerah pelosok secara merata dan maksimal, dan masih banyak lagi persoalan-persoalan teknis dan ideal dalam penerapannya.
2. Penggunaan anggaran yang memangkas pembiayaan sektor pendidikan dan kesehatan yang beresiko pada penurunan kualitas hidup rakyat.
Sudah seharusnya sektor pendidikan dan kesehatan menjadi kebutuhan yang vital dan utama. Bukan kegiatan yang sarat korupsi dan konspirasi yang serta tendensius menguras APBN yang bisa menimbulkan defisit keuangan negara.
Program MBG yang menggelontorkan anggaran 335 triliun untuk tahun ini, bukan saja menjadi proyek prestisius yang bersifat perjudian (gambling), inefisiensi dan inefektivitas serta mengancam stabilitas nasional. Eksplotasi anggaran secara serampangan yang tidak masuk skema padat karya dan dana bergulir, berpotensi menambah utang dan krisis ekonomi yang akan berlanjut pada krisis moneter.
Dalam tekanan depresiasi keuangan negara baik dalam neraca dan fiskal maupun pemenuhan kebutuhan belanja publik dalam sektor riil. Pemerintah justru menghambur-hamburkan uang rakyat untuk kepentingan yang belum bisa dikategorikan skala prioritas dan mendesak.
3. Kepemimpinan yang tidak efektif (gagal) dan lemahnya visi program MBG.
Baca Juga: Bagi Takjil dan Potong Rambut Gratis di Kota Tegal