Kasus mengumbar pajak, penambangan ilegal, deforestasi, gas melon, kriminalisasi hukum, respon bencana dan masih banyak lagi inkompentensi kinerja pemangku kepentingan publik level atas, hingga paling anyar konflik Polri dan MK. Sungguh merongrong dan menghancurkan upaya Prabowo dalam mengimplementasikan kebijakan populis, pro rakyat dan memberi asa perbaikan hidup rakyat.
Menteri dan kepala badan termasuk jajaran direksi dan komisaris BUMN juga TNI-Polri, sebagian besar merupakan anasir dari kekuasaan "invisible hand" yang menjadi virus mematikan dan menggerogoti pemerintahan Prabowo. Kelemahan dan rendahnya posisi tawar Prabowo bahkan dalam kapasitas sebagai presiden, pun terlihat ketika tak berdaya mereshuffle kabinet pemerintahannya yang sebagian rusak dan sontoloyo.
Jadi apa langkah-langkah hukum dan politis Prabowo?, demi terjaminnya supremasi hukum dan marwahnya sebagai presiden. Membiarkan dan seolah-olah tidak tahu siapa pelaku utama dibalik layar, atau memang tak punya kekuatan melawannya. Mungkinkan Prabowo sungguh-sungguh ikut terlibat dan menjadi bagian dari kejahatan demokrasi dan konstitusi yang telah dilakukan Genk Solo sejauh ini?.
Ada dua opsi kebijakan Prabowo baik secara hukum maupun secara politis yang pada akhirnya menunjukkan siapa sesungguhnya Prabowo sebagai presiden. Di sini bisa dinilai Prabowo sejatinya pemimpin tegas dan memiliki skil kenegarawanan, atau cuma glamour dalam diksi namun miskin integritas dan bahkan cenderung hipokrit.
Pertama, Prabowo akan larut menjadi korban dari permainan kekuasaan Genk Solo yang juga menjadi anasir dari kekuatan oligarki dan kepentingan global (baca: Amerika dan Republik Tiongkok).
Dalam hal ini Prabowo tersandera, tak berdaya dan mereduksi kekuasaannya sendiri. Sebagai presiden Prabowo hanya akan lebih banyak bermain opini dan citra, seakan-akan ia presiden berkarakter komitmen dan peduli pada kepentingan rakyat. Prabowo terlihat demam panggung dan larut menikmati selebritas sebagai presiden dari satu rapat ke rapat yang lain, dari orasi yang satu ke orasi yang lain dan dari kunjungan satu ke kunjungan lain. Juga dengan mimik wajah dan gestur yang terkesan heroik.
Baca Juga: YUSUF BLEGUR : Rakyat Disikat Hutan Dilumat, Sungguh Rezim Laknat
Jika ini terjadi, sungguh miris dan kasihan Prabowo, ia seperti layang-layang yang terus asyik dipermainkan. Selama masih bagus, bisa dimainkan. Sebaliknya jika sudah tak laik pakai jadi tak berguna. Posisinya rentan dan berbahaya, bisa putus diterpa angin kencang atau sengaja dilepas karena sudah puas dinikmati. Bahkan bisa juga dibuang karena sudah tidak berguna dan menjadi barang rongsokan yang mengganggu dan layak disingkirkan.
Jika Prabowo tak bisa keluar dari situasi tersebut, menyerah dan pasrah pada kekuasaan distorsi yang ikut membesarkannya. Maka Prabowo dipastikan menjadi satu dengan Genk Solo. Dengan stigma buruk dan mengerikan pada Genk Solo, dan Prabowo ada di dalamnya. Hanya julukan pengkhianat dan penjahat pada dirinya yang bisa ditinggalkan Prabowo untuk republik ini. Kalaupun ada beberapa terobosan kebijakan pro rakyat, itu tak sebanding dan equivalen dengan pembiaran dan terus nyaman meneruskan kebijakan yang salah dan merugikan bangsa ini.
Kedua, Prabowo memungkinkan untuk mengambil kebijakan yang terarah dan terukur untuk bertanggungjawab dan berorientasi pada kepentingan rakyat, negara dan bangsa.
Apapun resikonya memilih jalan terpisah bertentangan dengan Genk Solo, berarti Prabowo memiliki nyali dan kembali kepada hakekat pemimpin sejati yang rela berkorban untuk negara. Prabowo berpeluang menampilkan kembali watak prajurit pejuang yang pernah dimilikinya. Sikap nasionalisme dan patriotisme Prabowo yang demikian, akan menjadi legasi sekaligus dikenang sepanjang sejarah sebagai salah satu pemimpin besar dan terbaik yang pernah ada di Indonesia.
Rakyat menunggu, dari dua opsi tersebut mana yang akan diambil Prabowo. Langkah sesat menelusi dan terperangkap dalam lorong gelap keindonesiaan. Atau memilih menjadi setitik cahaya yang meski sedikit, ia menjadi seperti lilin kecil tetap menyinari di gelap malam-malam gulita yang menyelimuti negeri.
Semoga.
Bekasi Kota Patriot.
26 Jumadil Akhir 1447 H/17 Desember 2025.