KEADILAN ALLAH TIDAK HARUS TERLIHAT DI DUNIA, TAPI PASTI AKAN ADIL DI AKHIRAT
Oleh : Rudi Hartono
TOKMAS PEMALANG
Diskursus Teodisi :
Keadilan Tuhan di Tengah Hiruk-pikuk Dunia
Dalam wacana teologi Islam, sifat Allah Al - 'Adl (Maha Adil ) adalah pilar fundamental, namun, jika kita melihat realistis empiris, sering kali terhampar pemandangan yang paradoks :
Orang zalim berjaya, sementara'yang tertindas merana,
Fenomena ini memicu pertanyaan eksistensial yang berakar pada ilmu theodicy _ ilmu yang membela kebaikan Tuhan di tengah adanya kejahatan,
Pertanyaan kritisnya :
"Jika Allah Maha Adil, mengapa Ketidakadilan merajalela di dunia ?"
Baca Juga: Ahmad Luthfi Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Pengembangan UMKM
Keadilan Allah yang sesungguhnya tidaklah beroperasi dalam kerangka waktu manusia yang linier dan sempit.
1, Keterbatasan Perspektif Manusia vs Keadilan Mutlak
Manusia seringkali terjebak pada Pandangan positivistik yang dangkal,
Menilai adil hanya dari apa yang terlihat ( phenomena ),
Kita mengukur keadilan dengan hasil instan, Padahal, Menurut Keadilan Allah tidak selalu berupa kesamaan hasil ( equality ), melainkan proporsional ( equity ).
* Dudia sebagai Darul imtihan ( negeri Ujian ) :
Ketidak adilan yang terjadi di dunia adalah bagian dari kontrak kehidupan di mana manusia diuji kesadarannya ( bagi korban ) dan syukur/moralitasnya ( bagi yang berkuasa ).
* Keadilan yang
Tersembunyi :
Seringkali apa yang kita anggap "tidak adil" adalah bentuk kebijaksanaan tertinggi yang belum bisa dicerna oleh nalar manusia yang terbatas
2, Dunia Bukan Tempat Keadilan Sempurna
Secara antologis, dunia bukanlah tempat dimana keadilan sempurna bisa terwujud,
Dunia dirancang sebagai tempat percampuran antara kebaikan dan kejahatan, sebuah Medan pertempuran moral.
Kezaliman sebagai Konsekuensi Free Will :
Allah memberikan kehendak bebas pada manusia, ketidakadilan sering kali terjadi bukan karena Allah tidak adil, tetapi karena manusia menyalahgunakan kebebasan tersebut untuk berbuat zalim,
Sebagimana dijelaskan dalam analisis
Artikel Terkait
Berkat Sekolah Rakyat, Remaja Putri Ini Hidupkan Lagi Impian untuk Bekerja di Pertambangan
Si Cungkring dan Si Gemoy, Pasangan Tak Berkesudahan Oleh Yusuf Blegur (Aktifis 88)
OJO RUMONGSO BISO, NANGING BISOHO RUMONGSO
Rakyat Kian Sekarat dan Pejabat Semakin Bejat / Oleh : Yusuf Blegur (AKtifis '88)