Kisah Si Vina , Anak Kecil Yang Saat ini Tidak Tahu Bahwa Rumahnya Sudah Tidak ada lagi Rata dengan Tanah Akibat Musabah Tanah Bergerak

Photo Author
Agus.R, Jurnalis Network
- Senin, 23 Februari 2026 | 17:55 WIB
Anak anak korban tanah bergerak di Pengungsian (AGUS R)
Anak anak korban tanah bergerak di Pengungsian (AGUS R)

JurnalisNetwork-TEGAL- Kisah pilu dialami oleh Vina, anak perempuan salah seorang anak yang menghuni posko pengungsian desa padasari Jatinegara.Anak kelas 3 disebuah madrasah desa setempat yang dikenal periang dan cerdas  dan mandiri ini, kini banyak menlamun dan selalu ingin berada dekat dengan orang tuanya.dan masih belum tahu jika rumah tempat tinggal yang selama ini di huni bersama nenek, orang tua dan saudaranya kini sudah tidak ada lagi rata dengan tanah akibat tanah bergerak.

Sudah sepekan terakhir ini vina bersama ibunya , dan neneknya serta keluraga besarnya tinggal di tenda pengungsian berdesakan dengan orang orang yang sebblumnya tidak pernah ia alami.Saat tiba di pengungsian vina sadar mengapa ia harus pindah dari rumah yang asri dan nyaman untuk dihuni ke sebuah tenda berdesakan dengan barang barang rumah tangga dalam satu ruang.

“Iya sudah dua minggu lebih, mau 3 minggu. Udah gak betah. Sumpek,,”ucap Vina kepada JurnalisNetwork, di Pengungisan Padasari, Senin (23/2/2026)

Baca Juga: Rumah Suminah Roboh Diterjang Angin

Kata kata “tanah bergerak “ ia dengar pertama kali dari ibunya ,16 hari lalu saat dirinya dibangunkan ibunya dalam keadaan tidur lelap dimalam hari, dan disuruh segera bergegas membawa barang seadanya  dengan dikawal beberapa petugas polisi. Selanjutnya ia bersama nenekyang sudah renta ,ibunya dan keluarga besarnya diangkut menggunakan mobil truk milik polisi.selanjutnya dibawa ke tempat pengungsian

“Waktu itu aku dibangunin ama mamah dan disruh bawa selimut, terus dibawa mobil polisi ke sini kumpul barenag orang orang yang tidak semuanya aku kenal,”ucap Vina lagi

Ia merasa kaget dan bingung , saat turun dari mobil dan dikumpulkan bersama anak anak lain dan orang orang dewasa dalam satu tenda dan satu tempat.

Hari hari pertama , kedua dan ketiga hingga hari ke lima ia belum menyadari bahwa desanya terkena musibah tanah bergerak. Pada hari hari pertama ia berkumpul bersama anak anak seusianya dengan aktifitas sehari hari hany dipenuhi kegiatan bermain, makan, dan bercengkerama dengan anak anak seusianya dan diatas usianya serta dibawahnya.

Namun pada hari hari berikutnya ia mulai banyak mendengar kata katan tanah bergerak dan musibah, ditambah ia melihat aktifitas yang tidak biasanya.Seperti lalau lalang orang mengangkut barang barang barang barang rumah tangga.melihat kepanikan orang dan melihat kegiatan makan yang selalu teerjdawaldan diantar oleh orang berseragam.

Baca Juga: Ramadan, ASN Tetap Bekerja Secara Optimal Layani Masyarakat

Sejak itulah vina menjadi pemurung dan menjadi takut sendirian hingga selalu membuntuti dan mengikuti aktifitas ibunya dimana saja ibunya berada.

“Anak ini dulu mandiri dan tegal, tapi setelah di pengungisan menjadi cengeng dan penakut.Ia juga tidak rahu kalua rumahnya usdah nggak ada karena retak dan roboh akibat anah bergerak,”kata Carti , neneknya

Beruntung, aktitas belajar mengajar yang mulai di laksanakan sejak selasa lalu, sedikit melupakan peritiwa yang sadang terjadi .Ditambah banyaknya kegiatan trauma helaing yang dilakukan oleh sejumlah pihak mampu menjadikan vina melupakan apa yanag sedang terjadi.

Meski saat ditanya tentang apa sebetulnya yang terjadi, ia langusng berlari kea rah ibunya dan ingin selalu dekat dengan ibunya.

Halaman:

Editor: Agus.R

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

BAHAYANYA MAKELAR KASUS ( MARKUS )

Minggu, 24 Mei 2026 | 19:12 WIB

Suasana Perayaan Hari Raya Nyepi Di Tegal Kondusif

Jumat, 20 Maret 2026 | 15:24 WIB
X