JurnalisNetwork-BEKASI-
Ketika Nyawa Anak sebagai Harga Sebuah Buku
Disampaikan Oleh Yusuf Blegur
Republik terlalu sering berkoar-koar soal nasionalisme dan patriotisme sampai seorang Anak SD 10 tahun mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku
Tak ada lagi Statemen kemanusiaan yang bisa diungkapkan terkait kasus anak meregang nyawa karena tak mampu membeli buku. Kecuali,
Sebuah tragedi yang menghancurkan moral bangsa dan membangkitkan apatisme rakyat terhadap negara.
Ini gambaran yang nyata betapa negara yang kaya akan sumber daya, tak sekedar memiskinkan rakyat. Lebih miris lagi negara juga telah membunuh rakyatnya.
Sistem bukan saja melahirkan kemiskinan dan kebodohan struktural. Melalui tangan-tangan kotor dan pikiran-pikiran jahat distorsi penyelenggaraan negara, kekuasan telah mengangkangi kemanusiaan.
Betapa biadabnya para pemangku kepentingan publik yang terus melakukan "state organized crime" sambil menyerukan kebaikan dan kemajuan bangsa, yang seolah-olah.
Ditengah-tengah gelompang korupsi aparatur negara dan dalam terang benderang keangkuhan dan arogansi pejabat serta dalam penjajahan atas nama pemerintahan.
Baca Juga: BSI Gandeng Pemkot Tegal Beri Bantuan Kemiskinan
Kembali, meskipun kekayaan alam yang berlimpah, kesuburan tanah yang menyebar dan kultur kuat gotong-royong rakyatnya. Negara tak mampu menghentikan kematian seorang anak belia yang ingin mengejar cita-citanya melalui pendidikan, justru karena tunas bangsa itu tak mampu membeli sebuah buku.
Artikel Terkait
" LATAH WISATA MUSIBAH " Oleh : Rudi Hartono/ Tokmas Pemalang
Pejabat Erte Dilantik , Oleh : LUTFI AN /Wartawan Senior/ Seniman dan Budayawan Kota Tegal
KAMUS MAKSIAT Oleh: Lutfi A.N (Wartawan Senior/Seniman/Budayawan)
Beda Kekuasaan dan Kepemimpinan..Oleh : Yusuf Blegur / Aktifis'88
Seorang Anak SD 10 tahun mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku : "PENA dan BUKU" Oleh Lutfi AN (Wartawan Senior/Seniman Budayawan)